Nilai Sebuah Persahabatan


Sejak munculnya sosial media, yang dimulai dari situs jejaring sosial sixdegree, blogger, friendster yang fenomenal, linkedin untuk profesional, myspace, facebook yang beranggota terbanyak, twitter, wiser dan terakhir google+, orang berbondong-bondong mengupdate informasi pribadi dan memposting status dan saling menginvite teman-teman dari berbagai belahan dunia dengan tujuan untuk berbersahabat. Akan tetapi diantara pertemanan yang ada, barangkali sahabat dapat menghitung sendiri, berapakah teman yang diinvite itu dapat menjadi sahabat yang sejati, bukan?

Ramainya pertemanan atau persahabatan yang dijalin, itu membuktikan bahwa kita hidup di dunia ini tidak dapat bersendirian tanpa insan yang bergelar teman atau sahabat, bukan?

Tidak dinafikkan, jika dahulu sahabat kita adalah ibu bapa dan adik beradik kita serta teman-teman tetangga kita, bukan?

Kemudian apabila menjejakkan kaki ke alam persekolahan, akan ada pula kenalan lain, bahkan ada diantara mereka seakan-akan telah seia-sekata dalam pergaulan hidup sampai kita dewasa.

Namun, ada juga persahabatannya terhenti seiring tamatnya musim persekolahan.

Jadi, apa sebenarnya arti sebuah persahabatan yang dianjurkan oleh Islam?

Adakah sahabat seseorang yang mempunyai banyak persamaan dengan kita? Atau seseorang yang ada bersama kita, ketika kita senang atau susah?

Atau seseorang yang mungkin seakan lupakan kita, tetapi doanya tidak putus buat kita?

Untuk Apa Kita Sebenaranya Bersahabat ?

Satu persoalan yang jarang kita tanyakan pada diri kita. Mungkin kurang penting pada kita. Tetapi sebenarnya merupakan maklumat persahabatan itu perlulah lebih diperjelas, agar nilai sebuah persahabatan itu dapat kita raih dan nikmatnya dapat kita rasakan.

Mungkin kita mudah mengatakan, “Aku bersahabat karena Allah”, namun sejauh mana kita mampu melaksanakannya?

Janganlah kita hanya ingat bahwa cinta saja yang memerlukan pengorbanan. Persahabatan juga memerlukannya. Karean sudah menjadi fitrah manusia yang dikurniai perasaan hati.

Di saat persahabatan kita diuji, di sini kita boleh nilai sejauh mana ikhlasnya kita bersahabat. Kawan untuk tertawa bisa didapat, kawan menangis jarang dijumpai.

Mampukah kita yakin ada di kalangan sahabat kita yang akan ada untuk mendukung kita di saat kita memerlukan mereka?

Jika itu yang kita inginkan, sudah semestinya sahabat kita juga berfikiran yang sama, bukan?

Sahabatku.. di atas saya sudah ungkapkan, persahabatan yang tulus adalah benar-benar karena Allah semata. Tidak mengharapkan secuilpun balasan, hanya untuk memberi.

Tidak ada sedikitpun keluhan karena melakukan pengorbanannya dengan ikhlas. Dan sejauh mana kita ikhlas dalam bersahabat, hanya Allah yang mampu menilainya. 

Sahabatku yang baik hatinya.. Yuk kita tanamkan rasa tulus ikhlas kita, karena: “belum dikatakan ikhlas, bilamana kita masih suka mengungkit.”

Indahnya bersahabat karena Allah, karena semua yang dilakukan untuk sahabat, hanya untuk mengharapkan balasan dari-Nya. Lalu, untuk apa pujian manusia atau balasan darinya sedangkan sahabat dapat memperolehnya dari Allah yang Maha Kaya, bukan?

Ketika saya menuliskan artikel ini, saya teringatkan sahabat saya yang sentiasa mengingatkan kami tentang Allah. Tuturnya tidak lari dari mengharapkan ridha Allah SWT.

Pada mulanya, saya seolah-olah malu dengannya, seakan saya dipaksa berbuat baik di depannya.

Namun, ketika saya faham bahwa dia menasihati atas rasa kasih pada sahabat dan untuk kebaikan diri saya, juga tanpa mengharapkan sedikitpun balasan, saya mula mengerti.

Saya pernah membaca satu petikan bahwa Allah akan mengirimkan orang yang baik, jika kita berniat untuk menjadi orang yang baik.

Sebab itu kita harus bijak dalam memilih sahabat, karena sahabat merupakan cerminan diri kita. Oleh itu, bagaimana jika sahabat kita belum seperti yang kita harapkan?

Jawabannya, jangan tunggu sahabat yang baik, tetapi jadilah sahabat yang baik itu. Insyaa Allah, kitalah yang akan menjadi magnet yang membawa perubahan itu.

Dalam hati setiap hamba Allah pasti ada satu rasa untuk berubah. Itulah fitrah, mungkin cara untuk menzahirkannya saja diperlukan mujahadah.

Jadilah Terlebih Dahulu Seperti Yang Diinginkan

Mari sahabatku, kita refleksi diri. Jadilah seperti yang kita impikan.

Dalam memilih pasangan hidup, kita amat behati-hati agar pasangan kita dapat bersama-sama kita menuju ridha-Nya.

Dalam persahabatan juga wujudkan ciri-ciri sahabat yang diidamkan, agar kita dapat sama-sama menikmati indahnya bersahabat karena-Nya.

Di sini saya gariskan beberapa ciri yang perlu ada dalam diri seorang sahabat (juga untuk kita yang bergelar sahabat)

1. Berpegang Pada Agama. 

Beragama saja tidak cukup. Karena cinta pada Allah bukan hanya melalui kata-kata saja. Akan tetapi melalui perbuatan melaksanakan perintah dan menghindari larangan-Nya.

2. Berakhlak 

Akhlak ini apa yang terzahir di hati, dan sesungguhnya akhlak yang terpuji ada pada Rasul yang kita cintai, Nabi Muhammad SAW

3. Sanggup Berkorban

Dengan menjaga aib sahabatnya dan sentiasa nasehat-menasehati dan bersedia menerima teguran.

Inilah Sebuah Persahabatan Yang Sebenarnya

Saya coba mensarikan apa sebenarnya arti sebuah persahabatan yang dianjurkan oleh Islam?

Sahabat adalah insan yang selalu di samping kita, walau tidak ada di depan mata, tapi dalam doanya sentiasa ada untuk kita.

Islam menganjurkan persahabatan yang dilandasi kasih sayang karena Allah semata-mata.

Jika bermaklumat pasti akan saling ingat-mengingati ke arah kebaikan dan bersama-sama mencegah kemungkaran. 

Ternyata indahnya hidup bersahabat bukan?

Persahabatan itu cukup indah bagi mereka yang benar-benar mengerti akan nilainya. Sadarlah bahwa seorang sahabat sejati adalah salah satu hadiah terbaik dari Allah untuk kita.

Jangan sesekali bersahabat karena keperluan semata-mata. Karena apa saja yang kita lakukan tidak akan lari dari Yang Maha Melihat.

Manusia memang tidak lari dari kesilapan, tetapi itu tidak menjadi alasan untuk kita tidak berusaha berubah, Hijrah / Move on, ke arah kebaikan. Mari refleksikan diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar