Siapa Teman Setiamu ?


Telah jelas dari hadits rasul yg mulia, bahwa agama seseorang tergantung siapa teman setianya. Bahkan orang yg belajar Islam pun jika salah memilih teman setia, tak ada guna ilmu yg dimilikinya. Sebab pengaruh teman setia lebih kuat daripada ilmu yg diperoleh di bangku kuliah. Sehingga jelaslah bagi kita, jika ada orang yg dipanggil dengan sebutan mulia karena ilmu agama yang dimilikinya, namun tak memiliki pembelaan terhadap agamanya, itu karena ia telah menjerumuskan dirinya dengan bermanis-manis dalam pergaulan dengan orang yang melecehkan agamanya.

Sungguh beruntung orang yang 'bodoh' dalam ilmu agama, namun bergaul dengan para ulama atau tokoh yang membela agamanya. Ia selamat dari jalan yang salah. Akalnya mungkin belum sepenuhnya mengerti akan jalan Islam yang ia bela. Namun hati nuraninya terjaga untuk tetap setia akan syahadat yang diucapkannya. Tengoklah kisah ashabul kahfi. Anjing yang asalnya 'hina' pun dimuliakan karena tetap memilih bergaul dengan pemuda sholeh dan beriman.

So, jika ada orang yang rela berbagi piring makan siang dengan orang yang melecehkan agama kita, tak perlu diharapkan pembelaannya akan agama. Cukup kita doakan, agar di akhir kehidupannya dia mendapatkan teman makan siang lain yang menasehatinya dengan lembut saat keliru menjamah makanan 'Duhai kawan, Sebutlah nama Allah dahulu. Serta makanlah pakai tangan kananmu. Sebab ini ajaran nabi kita yang mulia. Tak inginkah dirimu menjadi orang mengikuti sunnah nabinya?'. Semoga Allah kumpulkan kita semua bersama para nabi, as shiddiq , dan syuhada di taman surga. Aamiin (bendri jaisyurrahman). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar